31 Aug 2025, Sun

Mouly Surya: Menembus Batas Sinema, Dari Jakarta ke Cannes Hingga Hollywood

Dalam dunia perfilman Indonesia, nama Mouly Surya berdiri sebagai salah satu simbol penting dari kebangkitan perspektif baru. Ia tidak hanya dikenal sebagai sutradara perempuan pertama yang memenangkan Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik, tetapi juga sebagai pionir yang membawa cerita-cerita khas Indonesia ke panggung dunia. Kehadirannya mengingatkan kita bahwa film bukan sekadar hiburan yang dikonsumsi massal, melainkan ruang ekspresi artistik, media kritik sosial, sekaligus cara mengukir identitas budaya di ranah global.

Mouly Surya lahir di Jakarta pada 1980 dan besar dengan kecintaan pada dunia literasi serta seni visual. Awalnya, ia tidak langsung mengarahkan langkah ke dunia penyutradaraan. Latar pendidikannya di bidang media dan komunikasi, baik di Indonesia maupun di Australia, memberikan landasan bagi dirinya untuk memahami bagaimana pesan dikonstruksi dan disampaikan melalui medium visual. Dari situlah tumbuh ketertarikan untuk menjadikan film sebagai bahasa yang universal. Ia kemudian mulai berkecimpung di dunia kreatif, menulis, dan akhirnya mencoba mengarahkan cerita ke layar lebar.

Karya debutnya, Fiksi. (2008), menjadi titik balik yang menegaskan Mouly Surya bukanlah sekadar nama baru. Film ini bercerita tentang Alisha, seorang perempuan muda yang masuk ke dunia yang penuh manipulasi, rahasia, dan hasrat yang gelap. Dari segi cerita, Fiksi. menawarkan sesuatu yang jarang dieksplorasi sineas Indonesia pada saat itu: psikologi karakter yang kompleks, atmosfer noir, serta penyutradaraan yang berani. Film ini diganjar Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia 2008, sekaligus mencatatkan sejarah karena untuk pertama kalinya penghargaan itu jatuh ke tangan seorang perempuan. Sejak saat itu, Mouly Surya dipandang sebagai sosok yang membawa perspektif segar ke perfilman nasional.

Setelah Fiksi., Mouly Surya tidak terburu-buru menggarap proyek berikutnya. Ia mengambil waktu untuk memperdalam pendekatan artistiknya, lalu lahirlah What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013). Film ini menyajikan kisah cinta remaja yang tidak biasa, menghadirkan tokoh-tokoh dengan keterbatasan fisik—remaja tunanetra dan tunarungu—namun membungkusnya dengan kelembutan visual dan narasi yang puitis. Dengan film ini, Mouly menantang stereotip cinta dalam film populer sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan tidak mengurangi intensitas emosi dan keindahan sebuah cerita. Keberanian tema dan pendekatan artistik membuat film ini menembus seleksi resmi Sundance Film Festival, sebuah pencapaian bersejarah karena untuk pertama kalinya ada film Indonesia yang diputar di ajang prestisius perfilman independen dunia tersebut. Kehadiran Mouly di Sundance membuktikan bahwa cerita dari Indonesia memiliki daya tarik universal yang bisa menembus sekat budaya.

Meski demikian, gaung internasional terbesar Mouly Surya hadir lewat Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017). Film ini tidak hanya berhasil mencuri perhatian di dalam negeri, tetapi juga membuka jalan lebar bagi perfilman Indonesia untuk dikenal lebih luas. Mouly mengusung istilah “satay Western” untuk menggambarkan film ini, sebuah permainan istilah dari “spaghetti Western” yang populer di era 1960-an. Marlina bercerita tentang seorang janda di Nusa Tenggara Timur yang melawan kawanan perampok yang hendak memperkosanya, dan bagaimana tindakannya membawa konsekuensi dalam empat babak cerita.

Visual lanskap kering Sumba dipadukan dengan alur cerita yang tegas dan karakter perempuan yang kuat, menjadikan Marlina sebuah karya yang segar, penuh simbol, sekaligus mengangkat isu gender dengan cara yang subtil namun tajam. Film ini mendapat undangan untuk tayang perdana di Directors’ Fortnight Festival Film Cannes, salah satu panggung paling bergengsi bagi sineas dunia. Kehadiran Marlina di Cannes bukan hanya pencapaian personal bagi Mouly, tetapi juga tonggak penting bagi sinema Indonesia modern. Film ini kemudian diputar di berbagai festival film internasional lain dan masuk ke daftar film terbaik tahun 2017 menurut media-media besar seperti The Hollywood Reporter dan Variety.

Di dalam negeri, Marlina menuai banyak penghargaan termasuk Piala Citra dan bahkan dipilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best Foreign Language Film di Academy Awards 2018. Meski tidak masuk nominasi final, langkah tersebut sudah menandai level pengakuan yang jarang diraih film Indonesia. Lebih jauh, Marlina membangkitkan percakapan baru tentang bagaimana cerita perempuan bisa diceritakan dengan cara yang berdaya, kuat, sekaligus relevan di konteks sosial Indonesia.

Apa yang membuat Mouly Surya berbeda dari sutradara kebanyakan adalah keberaniannya dalam mengambil perspektif. Ia tidak hanya mengandalkan keindahan visual, tetapi selalu memikirkan lapisan makna dalam setiap karya. Karakter perempuan dalam film-filmnya, misalnya, selalu ditempatkan dalam situasi genting dan penuh tekanan, namun justru dari situlah lahir kekuatan naratif yang luar biasa. Dalam Fiksi., perempuan menjadi pusat intrik yang menggerakkan cerita. Dalam What They Don’t Talk About When They Talk About Love, perempuan menjadi ruang bagi eksplorasi perasaan yang sunyi namun universal. Sementara dalam Marlina, perempuan menjadi simbol perlawanan yang menantang norma patriarki sekaligus merebut kendali atas tubuh dan pilihannya.

Kesuksesan Marlina membuka pintu yang lebih lebar bagi Mouly. Ia kemudian dipercaya menggarap proyek film internasional produksi Netflix berjudul Trigger Warning (2024), dibintangi oleh Jessica Alba. Ini adalah langkah besar yang menandai peralihan Mouly dari sinema independen ke ranah arus utama global. Bagi banyak sineas Indonesia, kesempatan menyutradarai film produksi Hollywood adalah mimpi besar, dan Mouly Surya membuktikan bahwa hal itu mungkin dicapai melalui konsistensi, kualitas, dan visi artistik yang kuat.

Di balik karyanya, Mouly kerap menekankan pentingnya representasi perempuan di kursi sutradara. Industri film, baik di Indonesia maupun global, masih sangat minim menghadirkan perempuan sebagai pengambil keputusan di balik layar. Kehadiran Mouly bukan hanya memperkaya sudut pandang cerita, tetapi juga memberi teladan bahwa perempuan memiliki kapasitas setara untuk memimpin produksi film besar, menembus festival internasional, hingga dipercaya studio global. Kehadirannya mendorong generasi baru sineas perempuan Indonesia untuk lebih berani berkarya tanpa batas.

Mouly Surya sendiri dalam berbagai wawancara pernah menekankan bahwa ia tidak ingin hanya dilabeli sebagai “sutradara perempuan,” karena baginya kualitas karya lebih utama daripada identitas gender. Namun, ia juga tidak menampik bahwa label tersebut penting sebagai simbol representasi. Dengan karya-karya yang ia hasilkan, Mouly membuktikan bahwa perspektif perempuan tidak sekadar ada, tetapi juga penting, relevan, dan mampu memberikan dimensi baru dalam dunia sinema.

Jejak panjang perjalanan Mouly Surya sejauh ini mengajarkan banyak hal: bahwa ketekunan, keberanian dalam memilih jalur berbeda, serta kepekaan terhadap isu sosial bisa menjadikan film bukan sekadar tontonan, tetapi juga pernyataan. Dari Fiksi. yang intim, What They Don’t Talk About When They Talk About Love yang puitis, hingga Marlina yang eksplosif, perjalanan Mouly Surya terus berlanjut, kini merambah ke Hollywood dengan karya baru yang ditunggu-tunggu.

Ke depan, nama Mouly Surya hampir pasti akan terus menghiasi perbincangan sinema dunia. Ia telah menorehkan sejarah sebagai salah satu sutradara paling berpengaruh dari Indonesia, seorang kreator yang mampu memadukan kearifan lokal dengan bahasa sinema universal, dan seorang perempuan yang membuktikan bahwa kursi sutradara adalah ruang yang bisa ditempati siapa pun yang memiliki visi dan keberanian. Dalam lanskap global yang terus berubah, Mouly Surya akan selalu dikenang sebagai pionir, inspirasi, sekaligus ikon yang membawa sinema Indonesia menembus batas.

By scn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *